Mbak Tutut Soeharto dan Sa-sa-sa Warisan Sang Ayah

Mbak Tutut Soeharto dan Sa-sa-sa Warisan Sang Ayah

Ramadhian Fadillah - detikNews
Berbagi informasi terkini dari detikcom bersama teman-teman Anda
Jakarta Sa-sa-sa. Itulah pedoman mantan Presiden Soeharto kala masih hidup. Pedoman ini pun menjadi pedoman sang putri sulung, Siti Hardiyanti Rukmana alias Tutut Soeharto. Apakah sa-sa-sa itu?

Sa-sa-sa yang dimaksud adalah sabar atine, sabar pikolahe, sareh tumindake. Selalu sabar, selalu saleh dan selalu bijaksana. Itulah arti falsafah berbahasa Jawa itu.

"Setelah beliau memutuskan untuk berhenti dari jabatan sebagai Presiden Republik Indonesia, Bapak tak pernah jemu mengingatkan kami untuk tetap sabar dan jangan dendam," kenang Tutut saat menerima ucapan selamat dari tamu-tamu undangan yang hadir dalam peluncuran buku 'Pak Harto The Untold Stories' di Museum Purna Bhakti Pertiwi, TMII, Jakarta Timur, Rabu (8/6/2011).

Kala menerima ucapan selamat, Tutut tampak berkaca-kaca. Perempuan berkacamata ini merasa bahagia buku yang mengupas sisi lain mantan pemimpin Orde Baru ini akhirnya bisa terbit.

"Terima kasih, terima kasih," ujar dia.

Buku ini mencatat kenangan 130-an tokoh soal Soeharto. Rekan kerja, pengawal, anak buah, keluarga, hingga lawan-lawan politik Soeharto. Tutut mengaku meminta mereka menuliskan kenangan mereka soal Soeharto dengan jujur.

"Kami mencatat kenang-kenangan itu dalam sebuah buku secara jujur dan tanpa rekayasa. Semua apa adanya," sambung Tutut yang mengenakan batik coklat ini.

Dia mengaku ingin meluncurkan buku ini untuk mengenang ayahnya. Tidak ada motif apa pun selain ingin mengungkap sisi lain Soeharto yang ternyata sangat manusiawi.

Jika masih hidup, Soeharto kini berusia 90 tahun. Dia dilahirkan tepat 8 Juni 1921. Tapi jenderal bintang lima itu telah dipanggil Yang Kuasa pada 2008 lalu.

"Selamat jalan Bapak, guratan cinta ini mengantar doa kami menyertai Bapak dan Ibu," doa Tutut.

Kala Soeharto meninggal pada Januari 2008, Tutut mewakili keluarga meminta maaf kepada publik. "Kami mohon, apabila ada kesalahan, Bapak dimaafkan," ucapnya kala itu sambil berurai air mata.

Tutut lahir pada 23 Januari 1949 dan pernah mengenyam pendidikan di Universitas Trisakti. Di era orde baru, Tutut pernah menjadi Menteri Sosial. Setelah Soeharto lengser, ibu dari 3 anak ini pernah aktif di Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB). Di partai itulah, Pak Harto memegang kartu tanda anggota (KTA) PKPB nomor satu.

(rdf/vit)

0 komentar: